Sunday , 9 December 2018
breakingfav ICCRI

ICCRI 09 SEBAGAI KLON UNGGUL KAKAO (Theobroma cacao L.) YANG BERSIFAT TAHAN PENYAKIT VSD (Ceratobasidium theobromae) SERTA MEMILIKI KARAKTERISTIK MUTU CITA RASA SPESIFIK (FLORAL)

*ICCRI 09 SEBAGAI KLON UNGGUL KAKAO _(Theobroma cacao L.)_ YANG BERSIFAT TAHAN PENYAKIT VSD _(Ceratobasidium theobromae)_ SERTA MEMILIKI KARAKTERISTIK MUTU CITA RASA SPESIFIK (FLORAL)*

Pengembangan bahan tanam unggul kakao tahan hama dan penyakit masih menjadi fokus perhatian utama dalam program pemuliaan kakao di Indonesia. Bahan tanam unggul kakao yang telah direkomendasikan tidak seluruhnya adaptif dengan kondisi agroklimat kakao saat ini terutama tanaman menjadi lebih peka terhadap serangan hama dan penyakit, terutama penyakit vascular-streak dieback (VSD). Beberapa klon dan hibrida unggul kakao tahan VSD masih perlu upaya perbaikan mutu genetik terutama ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit penting lainnya serta perlu upaya meningkatkan keragaman genetik bahan tanam unggul kakao di Indonesia. Bahan tanam unggul kakao diharapkan memiliki ketahanan terhadap berbagai serangan hama dan penyakit utama serta adaptif dengan kondisi perubahan iklim, terutama kondisi iklim kering yang terkadang lebih panjang sehingga berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kakao. Di samping itu bahan tanam kakao juga diharapkan memiliki potensi mutu biji yang spesifik sebagai upaya pengembangan produk kakao spesialty guna meningkatkan daya saing kakao dalam perdagangan global.
Perakitan bahan kakao tahan penyakit VSD telah dilakukan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) sejak awal 2000 melalui persilangan antar klon-klon unggul terpilih. Fase seleksi tahap I telah terseleksi hibrida kakao unggul tahan VSD yang dirilis dengan nama ICCRI 06H (tahun 2010) dan ICCRI 08H (tahun 2017). Daur seleksi berulang dilakukan terhadap populasi bersegregasi hasil persilangan klon- klon unggul terpilih guna mendapatkan genotipe unggul tahan VSD serta hama dan penyakit penting lainnya. Seleksi individu dilakukan pada populasi bersegregasi yang merupakan materi uji multilokasi hibrida unggul harapan kemudian terseleksi beberapa genotipe unggul dan diperbanyak secara klonal untuk tahap seleksi klon unggul tahan VSD. Seleksi klonal dilakukan di KP Kaliwining, Jember sebagai daerah endemik penyakit VSD yang bertipe iklim kering. Perlakuan adalah 44 klon kakao hasil seleksi, eksplorasi dan introduksi. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 blok sebagai ulangan dan setiap plot ditanami 5 tanaman. Penanaman dilakukan tahun 2008 kemudian proses evaluasi terhadap sifat produksi, ketahanan penyakit VSD, penyakit busuk buah dan hama Helopeltis serta mutu biji dilakukan selama periode tahun 2013-2017. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ICCRI 09 yang merupakan progeni persilangan TSH 858 x Sulawesi 1 memiliki potensi dayahasil tinggi dengan rerata produksi 2,15 kg/pohon dan bersifat tahan penyakit VSD, busuk buah dan hama Helopeltis. ICCRI 09 juga menunjukkan daya adaptasi yang baik saat kondisi musim kering kering panjang yang terjadi pada tahun 2015 sehingga diduga adaptif pada lahan- lahan dengan tipe iklim kering.
Selanjutnya ICCRI 09 diuji adaptabilitasnya di beberapa lokasi dengan kondisi agroklimat berbeda, yaitu KP Sumber Asin (Malang), Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat), dan MRDC Tarengge (Luwu Timur). ICCRI 09 menunjukkan potensi produksi sebesar 2,35 kg/pohon pada kondisi agroklimat KP Sumber Asin; 1,67 kg/pohon pada kondisi agroklimat Kabupaten Polewali Mandar; dan 2,5 kg/pohon pada kondisi agroklimat Luwu Timur. ICCRI 09 juga menunjukkan produksi yang stabil antartahun dan respons ketahanan yang stabil terhadap serangan penyakit VSD dan busuk buah, dan bersifat moderat tahan terhadap serangan PBK. ICCRI 09 juga memiliki profil aroma biji yang spesifik berdasarkan evaluasi tim Cocoa of Excellence dengan karakteristik unik berupa citarasa bunga (flower) dan kayu-kayuan (woody) disertai citarasa sangraian (roasted) yang lembut, dan di samping citarasa cokelat yang jelas, disertai dengan rasa pahit (bitterness) dan rasa sepat (astringency) rendah sehingga menghasilkan perpaduan citarasa yang spesifik.