Tuesday , 19 September 2017
breakingfav ICCRI

Kopi

1. Secangkir kopi tanpa gula memiliki kandungan 2 kcal energi, 0,28 g protein dan 0,05 g lemak. Kopi juga menyediakan kalium, kalsium, magnesium dan natrium. Kalium adalah mineral terbanyak dengan konsentrasi 116 mg/cangkir. Beberapa jenis vitamin juga terkandung dalam kopi, antara lain tiamin, riboflavin, niasin dan asam folat.
2. Suku Aztec menggunakan kakao sebagai obat dan praktek ini diteruskan hingga kependudukan bangsa Spanyol dan menyebar hingga Amerika Utara. Selama kurun waktu empat abad yaitu dari abad 16 sd. 20, telah diterbitkan lebih dari seratus resep pengobatan yang menggunakan biji kakao.
3. Secangkir kopi mengandung sekitar 95 mg kafein. Kopi robusta memiliki kadar kafein sekitar 1,9%, sedangkan pada kopi arabika sekitar 1 %. Kadar kafein mengalami penurunan sebanyak 24% akibat penyangraian.
4. Oleh bangsa Spanyol kuno, kakao digunakan untuk mengobati tuberkulosis, cacar dan demam kuning, serta infeksi bakteri seperti kolera. Kakao juga digunakan untuk mengatasi penyakit non-infeksi seperti asma, gangguan pencernaan, dan keluhan terkait menstruasi. Kakao juga dipercaya dapat memperpanjang usia.
5. Kopi yang rendah kafein diperoleh melalui proses dekafeinasi. Proses ini menghilangkan sebagian besar kafein dalam kopi dan menghasilkan minuman kopi dengan kadar kafein 1 mg per 100 g sajian
6. Polifenol dalam kakao bubuk meningkatkan kadar HDL (High Density Lipoprotein) atau yang dikenal juga sebagai kolesterol baik. Peningkatan HDL mampu menurunkan resiko penyumbatan pembuluh darah Cokelat yang kaya akan polifenol membantu kestabilan tekanan darah dan sensitivitas insulin.
7. Biji kopi juga mengandung senyawa polifenol berupa asam klorogenat. Kopi yang memiliki kadar asam klorogenat yang tinggi biasanya citarasanya kurang baik. Penyangraian merusak asam klorogenat dan mengubahnya menjadi senyawa dengan citarasa pahit dan getir .

8. Penelitian lain yang dilakukan oleh Andujar et al.(2011) menunjukkan polifenol dalam kakao memiliki sifat anti-inflamasi yang berperan menghambat kerusakan pada dinding usus.

9. Kafein memicu tekanan darah tinggi, namun kopi belum tentu menyebabkan hipertensi. Tekanan darah orang yang meminum kopi memang meningkat, namun peningkatannya lebih rendah dari orang yang meminum tablet kafein. Corti et al. (2002) mengungkapkan penggemar kopi umumnya telah beradaptasi terhadap efek hipertensi kopi.

10. Minuman cokelat dengan kandungan polifenol tinggi dapat mengurangi kelelahan kronis. Polifenol kakao ditengarai berpengaruh pada fungsi kelenjar endokrin dan hipotalamus. Penderita kelelahan kronis telah merasakan manfaat konsumsi 45 g cokelat per hari selama delapan minggu.

11. Kafein dalam kopi dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh, namun hal ini berlaku bagi orang yang asupan kalsium hariannya rendah (Heaney, 2002). Wanita dengan asupan kalsium harian rendah (<700 mg/hari) tidak disarankan meminum lebih dari empat cangkir kopi per hari (Hallström et al., 2006).
12. Sekelompok pekerja kantoran yang mengonsumsi cokelat, mengaku cokelat dapat meningkatkan kemampuan verbal, desain, mempertajam konsentrasi dan membuat mereka dapat merespon stimulus dengan lebih sigap.
13. Kafein dalam kopi merangsang produksi asam lambung dan pepsin serta memicu nyeri ulu hati, namun hal ini berlaku juga dengan kafein dari sumber lainnya misalnya buah kola. Menariknya, senyawa kopi juga mengandung senyawa N-methylpyridinium (NMP) yang menstabilkan keasaman lambung.
14. Kafein juga berpengaruh terhadap pelepasan hormon β-endorfin. Endorphin diketahui meningkatkan imunitas tubuh, menghilangkan rasa sakit, memperlambat proses penuaan dan menurunkan tingkat stres
15. Minum kopi berkafein 30 menit sebelum tidur, dapat membuat anda lebih segar dengan tidur yang lebih singkat.
16. Cokelat pertama kali diproduksi pada tahun 1847 di Inggris, dan dipamerkan di Birmingham. Pada tahun 1868, John Cadbury memasarkan permen cokelat secara massal untuk pertama kalinya. Awal abad 1900, Milton Hershey memulai produksi cokelat dalam bentuk batangan, wafer dan aneka bentuk.
17. Kafein bagi wanita hamil, dapat meningkatkan risiko keguguran, kematian bayi, dan berat lahir rendah. Wanita hamil disarankan untuk mengatur asupan kafeinnya, baik dari kopi, kola atau sumber lainnya, tidak lebih dari 182 mg/hari atau setara dengan tiga cangkir kopi dalam sehari
18. Komposisi kakao yang digunakan dalam pembuatan cokelat menentukan kategori cokelat. Cokelat dengan proporsi pasta kakao lebih dari 35% dikategorikan dark chocolate, kurang dari itu dinamakan sweet chocolate. Apabila cokelat menggunakan pasta kakao kurang dari 15% dan susu lebih dari 12%, maka dinamakan milk chocolate. Istilah white chocolate diberikan kepada campuran lemak kakao dengan pemanis dan susu, tanpa adanya kandungan pasta kakao dan bubuk kakao.
19. Kafein yang dikonsumsi ibu menyusui, dapat terdistribusi ke ASI dalam kurun waktu lima belas menit. Diperkirakan, bayi yang disusui akan menerima kafein sebanyak 0,06-1,5% kafein yang dikonsumsi ibunya.
20. Compound adalah produk kakao dengan kandungan kakao bubuk dan lemak kakao yang lebih rendah dari yang ditetapkan standar dunia. Perbedaan antara compound dan cokelat terletak pada jenis lemak yang digunakan. Istilah cokelat hanya boleh diberikan apabila sumber lemak yang digunakan adalah lemak kakao, sementara apabila digunakan selain lemak kakao harus dinamai compound.
21. Kafein digunakan dalam formulasi obat migrain dikombinasikan bersama asetaminofen dan aspirin . Kafein yang dikombinasikan dengan ergotamin, menyebabkan ergotamin lebih mudah diserap dan lebih efektif.
22. Penduduk Meksiko juga menggunakan kakao dalam masakan, salah satunya dalam mole poblano. Masakan ini memiliki bumbu kental yang sarat akan cabai, disertai daging kalkun dan kuah kaldu. Kakao digunakan untuk penyedap serta untuk memperoleh warna gelap. Konon, mole poblano dulunya disajikan pada jamuan makan malam kerajaan dan acara perayaan lainnya
23. Kafein banyak digunakan dalam formula obat pelangsing, karena memiliki sifat termogenesis. Sifat termogenesis dapat meningkatkan panas tubuh yang memicu tubuh untuk menggunakan lebih banyak energi sehingga berat badan dapat berkurang. Selain itu, penelitian mengungkapkan bahwa asam khlorogenat dapat menghambat penyerapan glukosa dan lemak.
24. Tejate adalah minuman kakao yang dikenal masyarakat Meksiko, merupakan warisan dari Suku Maya yang pernah menempati wilayah Oaxaca. Minuman ini merupakan campuran dari biji kakao, tepung maizena, biji Pouteria sapota, dan bunga Quararibea funebris. Terkadang gula tebu ditambahkan sebagai pemanis.
25. Senyawa kelompok santin sering digunakan untuk menghilangkan selulit. Kafein yang dioleskan pada kulit berselulit, diharpakan dapat memicu lemak di lapisan bawah kulit agar dapat meluruh. (Avram, 2004). Terapi anti-selulit dengan kopi merupakan layanan populer di salon kecantikan.
26. Selain asam klorogenat, kopi juga merupakan sumber trigonelin. Latihan fisik yang diiringi dengan asupan trigonelin dapat menghasilkan massa otot yang lebih tinggi dan tidak mudah menyusut.

Avram, M. M. (2004). Cellulite: a review of its physiology and treatment. Journal of Cosmetic and Laser Therapy, 6(4), 181-185.
Corti, R., Binggeli, C., Sudano, I., Spieker, L., Hänseler, E., Ruschitzka, F., Chaplin, W. F., Lüscher, T. F., & Noll, G. (2002). Coffee acutely increases sympathetic nerve activity and blood pressure independently of caffeine content role of habitual versus nonhabitual drinking. Circulation, 106(23), 2935-2940.
Hallström, H., Wolk, A., Glynn, A., & Michaëlsson, K. (2006). Coffee, tea and caffeine consumption in relation to osteoporotic fracture risk in a cohort of Swedish women. Osteoporosis international, 17(7), 1055-1064.
Heaney, R. (2002). Effects of caffeine on bone and the calcium economy. Food and Chemical Toxicology, 40(9), 1263-1270.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*