Tuesday , 19 September 2017
breakingfav ICCRI

Pengolahan Produk Lain

DSC_0129

PENGOLAHAN PULPA KAKAO

1.BIJI KAKAO

Biji kakao hasil pengupasan buah kakao dilapisi oleh pulpa berwarna putih. Pulpa kakao mengandung senyawa gula dan bisa digunakan sebagai bahan pembuat nata de kakao. Nata de Coco adalah nama yang mula-mula dikenal di Filipina untuk menyebut produk olahan yang dibuat dari air kelapa.

2.PEMERASAN PULPA [LENDIR] BIJI KAKAO

Lapisan pulpa dikurangi secara mekanik antara 30 – 40 % dari berat pulpa awal atau setara dengan 150 kg pulpa per 1 ton biji kakao basah.

3.PULPA HASIL PERASAN

Pulpa hasil perasan yang semula warna putih akan berubah coklat akibat terfermentasi [browning process]. Oleh karena itu, pulpa harus segera diolah menjadi nata de kakao dan jus kakao.

4.STERILISASI PULPA

Warna coklat akan hilang setelah pulpa diencerkan 20 kali dari volume awalnya dan kemudian disaring. Larutan pulpa yang jernih kemudian direbus sampai mendidih.

5.PEMBIAKAN INOKULAN dan FERMENTASI

Biakan Acetobacter xylinum dapat diperoleh dari beberapa sumber dan banyak dijual di pasaran. Inokulasi media dilakukan pada larutan pulpa yang telah disterilisasi di dalam bak plastik pada suhu kamar. Kedalaman larutan di dalam bak diatur lebih kurang 3 cm. Bak kemudian ditutup menggunakan kertas. Fermentasi dilakukan selama 8 sampai 12 hari untuk memperoleh lapisan nata dengan tebal antara 1,50 sampai 2 cm.

6.PEMOTONGAN LEMBARAN NATA

Lembaran nata ditiriskan dan diiris menjadi potongan-potongan ukuran 2 x 2 cm. Potongan-potongan selanjutnya direbus. Setelah dingin, potongan nata direndam selama 3 malam dengan air untuk menghilangkan rasa asam. Air rendaman diganti dengan air yang segar setiap hari. Setelah bersih, nata dimasukkan ke dalam larutan dalam larutan gula dengan berbagai warna dan tambahan bahan penyedap.

7.PENGEMASAN

Nata dikemas dalam plastik atau gelas yang sebelumnya telah disterilkan dengan air panas pada suhu 800C. Proses pengemasan harus dilakukan secara hati-hati dan cermat agar tutup kemasan betul-betul rapat dan tidak terjadi kontaminasi. Untuk penyimpanan dalam waktu lama, kemasan yang sudah tertutup sebaiknya disimpan di ruang berpendingin.

PENGOLAHAN KRISTAL K2O

1.KULIT BUAH KAKAO

Kulit buah merupakan limbah setelah buah kakao dibelah diambil biji kakaonya. Kurang lebih 70 % dari buah kakao adalah kulit buah. Kandungan senyawa K [kalium] dalam buah kakao basah antara 3,50 sampai 4,50 %.

2.PENJEMURAN

Penjemuran dilakukan untuk menurunkan kadar air kulit buah yang semula awal 55 % menjadi 20 %. Jika cuaca terang, penjemuran kulit buah berlangsung selama 6 sampai 7 hari.

3.PEMBAKARAN

Kulit buah yang telah kering dibakar di dalam tungku kristalisator sampai diperoleh abu. Kristalisator merupakan alat untuk menghasilkan senyawa oksida K2O.

4.ABU KULIT KAKAO

Setiap pembakaran 100 kg kulit buah kering akan diperoleh abu sebanyak 10 kg. Setelah air dan senyawa organik volatil diuapkan, kandungan K2O dalam abu lebih kurang 18 %.

5.PELARUTAN

Abu dilarutkan dengan air panas dan disaring sampai diperoleh ekstrak abu yang mengandung senyawa K2O lebih kurang 18 %.

6.PENGUAPAN

Larutan abu dimasukkan ke dalam kristalisastor dan dipanaskan pada suhu 100o C. Larutan abu mendekati jenuh saat suhu larutan meningkat mendekati 110o C. Setelah itu, tungku dimatikan dan larutan didinginkan dengan hembusan udara lingkungan sampai terbentuk kristal garam kalium. Bahan bakar alat ini adalah kulit buah kering. Abu yang diperoleh kemudian dilarutkan pada proses berikutnya.

7.KRISTAL OKSIDA KALIUM

Kristal oksida kalium berwarna putih bersih. Setiap 10 kg abu kaulit buah kakao akan diperoleh lebih kurang 550 gr kristal oksida kalium. Kandungan oksida kalium dalam abu lebih kurang 87 %. Senyawa ini digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun dan biodisel.

PEMBUATAN SABUN DARI LEMAK KAKAO

1.BAHAN BAKU

Bahan baku utama sabun adalah lemak kakao [terutama yang non-edibel], minyak kelapa dan kristal K2O.

2.PROSES PENYABUNAN [SAPONIFIKASI]

Proses dilakukan pada reaktor berpengaduk dan berpendingin. Lemak kakao yang sudah dilelehkan atau minyak kelapa dimasukkan dalam reaktor dan kemudian ditambahkan kristal K2O secara bertahap sambil diaduk. Selama proses ini berlangsung, larutan menjadi panas. Untuk itu, reaktor ini perlu didinginkan dengan air melalui dindingnya [jacket].

3.PEMBENTUKAN SABUN

Proses pengadukan dihentikan jika larutan sabun sudah mulai mengental. Penambahan bahan pewangi, pewarna dan bahan-bahan lain dilakukan sambil diaduk sebelum fase pengentalan terjadi.

4.PENCETAKAN

Larutan sabun dituang dalam cetakan dan kemudian disimpan selama satu sampai dua hari dalam cetakan agar sabun menjadi beku dan keras. Sabun padat dilepaskan dengan cara membalik cetakannya.

5.PENGEMASAN dan PENYIMPANAN

Sabun padat dikemas dalam lembaran plastik tipis atau kertas. Sabun yang telah dikemas disimpan selama 3 minggu sebelum dipakai atau dipasarkan untuk stabilisasi nilai pHnya.

PENGOLAHAN MINYAK KELAPA

1.PANEN TEPAT MATANG

Buah kelapa tua [masak] ditandai oleh perubahan warna kulit buah yang semula hijau menjadi kecoklatan.

2.PENGUPASAN SERABUT dan PEMECAHAN BUAH

Buah kelapa dikupas sabutnya secara manual dan dipecah untuk mendapatkan daging buah. Air kelapa digunakan sebagai bahan baku nata bersama dengan lendir [pulpa] biji kakao.

3.PENGERINGAN DAGING KELAPA

Daging kelapa dikeringkan secara mekanis dengan alat pengering yang biasanya dipakai untuk pengeringan biji kakao atau biji kopi. Sumber bahan bakar pengeringan adalah batok [tempurung] kelapa.

4.KOPRA

Kopra adalah hasil pengeringan daging kelapa yang akan diolah manjut menjadi minyak kelapa. Kadar air kopra lebih kurang 6 %.

5.PENGEPRESAN KOPRA

Ekstraksi minyak kelapa dari kopra dilakukan dengan alat press tipe ulir [expeller]. Hasil pengepresan adalah minyak mentah [CCO, Crude Coconut Oil]. Setelah melalui penyaringan, minyak ini bisa digunakan sebagai bahan baku biodisel atau dibakar langsung dalam kompor nabati. Bungkil, sisa pengepresan, digunakan sebagai pakan ternak.

6.PEMURNIAN dan PENGEMASAN

Minyak mentah bisa diolah menjadi minyak goreng setelah melewati proses penyaringan, pemurnian dan penetralan.

PENGOLAHAN GULA SEMUT

 

1.PANEN NIRA

Penyadapan umumnya dilakukan 2 kali/hari. Setiap bunga kelapa [mayang] dapat dipanen niranya selama ± 40 hari. Aliran nira berkisar antara 2 – 3 liter/pohon/hari dan ditampung dalam bumbung [bambu] yang telah ditambah CaO supaya pH nira terjaga pada kondisi netral.

2.PENGUMPULAN NIRA

Hasil nira dari setiap pohon dimasukkan sambil disaring ke dalam jerigan plastik [20 l]. Jerigen harus segera dibawa ke pabrik. Nira harus diolah tidak lebih 3 jam dari saat panen.

3.KRISTALISASI

Nira yang sudah bersih kemudian dimasukkan ke dalam wajan [pan] penguapan. Proses penguapan diatur pada suhu antara 100 – 110 oC sambil dilakukan pengadukan. Gumpalan kristal gula terbentuk setelah 45 menit waktu pemanasan. Energi pemanasan yang diperoleh dari pembakaran batok kelapa.

4.PENGHALUSAN KRISTAL GULA

Gula semut kasar dengan ukuran kristal kemudian digiling secara mekanik untuk mendapatkan ukuran serbuk gula yang lebih halus.

5.PENGAYAKAN

Gula semut diayak dengan menggunakan ayakan ukuran 10, 15 dan 20 Mesh.

6.PENGERINGAN MEKANIS

Meskipun kadar air gula semut dalam SNI adalah 8 %, beberapa konsumen meminta kadar air gula semut lebih rendah, yaitu 3 %. Maka gula semut halus perlu dikeringkan lanjut di dalam oven pada suhu 60 o Cselama beberapa jam.

7.PENGEMASAN dan PENGGUDANGAN

Gula semut dikemas dengan kemasan plastik polipropilen atau poliethilen dan ditutup [seal] yang rapat dengan alat pengemas panas. Gula semut yang telah dikemas rapat disimpan dalam ruangan bersuhu 20 o C dengan RH 50 – 60 %.

PENGOLAHAN GULA MERAH

1.PANEN NIRA

Penyadapan umumnya dilakukan 2 kali/hari. Setiap bunga kelapa [mayang] dapat dipanen niranya selama ± 40 hari. Aliran nira berkisar antara 2 – 3 liter/pohon/hari dan ditampung dalam bumbung [bambu] yang telah ditambah CaO supaya pH nira terjaga pada kondisi netral.

2.PENGUMPULAN NIRA

Hasil nira dari setiap pohon dimasukkan sambil disaring ke dalam jerigan plastik [20 l]. Jerigen harus segera dibawa ke pabrik. Nira harus diolah tidak lebih 3 jam dari saat panen.

3.KRISTALISASI

Nira yang sudah bersih kemudian dimasukkan ke dalam wajan [pan] penguapan. Proses penguapan diatur pada suhu antara 100 – 110 oC sambil dilakukan pengadukan. Larutan nira akan mengental [jenuh] setelah 30 menit waktu pemanasan. Energi pemanasan yang diperoleh dari pembakaran batok kelapa.

4.PENCETAKAN

Nira yang telah mengental dituang dalam cetakan. Bahan catakan yang digunakan umumnya dari kayu atau pipa aluminium. Sebelum digunakan, cetakan dibersihkan terlebih dahulu menggunakan air kapur dan direndam dalam air bersih untuk memudahkan pelepasan antara gula padat dengan cetakannya. Saat menuang nira, cetakan digetarkan agar diperoleh padatan gula yang rapat [tidak berpori].

5.GULA MERAH

Setelah dingin, padatan gula merah dapat dikeluarkan dari cetakannya. Gula merah akan mempunyai bentuk sesuai profil cetakannya.

6.PENGEMASAN dan PENGGUDANGAN

Gula merah dikemas dengan kemasan plastik polipropilen atau poliethilen dan ditutup [seal] yang rapat dengan alat pengemas panas. Gula merah yang telah dikemas rapat disimpan dalam ruangan bersuhu 20 o C dengan RH 50 – 60 %. Pada kondisi ini gula merah mampu bertahan sampai dua tahun tanpa mengalami perubahan biologis, kimiawi dan fisis.

PENGOLAHAN SERABUT KELAPA

1.BUAH KELAPA

Bahan baku sabut kelapa merupakan limbah buah kelapa yang telah diambil daging buahnya untuk pembuatan minyak kelapa atau kopra.

2.SORTASI BUAH SEHAT

Setelah dikupas dari batoknya, sabut tersebut kemudian direndam selama 3 hari agar seratnya lunak dan lemas.

3.PENYERABUTAN

Sabut diurai secara mekanik untuk memisahkan bagian serat dengan gabus. Penguraian serat dilakukan dengan pisau berputar di dalam silinder beralur.

4.ABUT KELAPA

Sekitar 35% dari total berat buah kelapa merupakan sabut kelapa. Bagian yang bersabut ini merupakan bahan baku aneka industri, seperti karpet, sikat, keset, bahan pengisi jok, tali dan lain-lain. Kulit buah kelapa teridir natas 30 % serabut dan 70 % peat.

5.DEBU (SERBUK)

Debu [cocopeat] adalah serbuk sabut yang terpisah saat proses penyerabutan. Bahan ini dapat digunakan sebagai media tanam dan bisa juga sebagai campuran kompos.

6.SABUT KELAPA SEBAGAI BAHAN ISOLATOR PANAS

Pada kerapatan 85 kg/m3 dan tebal lapisan serabut 60 mm, konduktivitas panas serabut pada suhu 40°C adalah 0.058 W/oK. Jadi matras sabut kelapa sangat baik sebagai bahan isolasi untuk alat-alat pemanas suhu medium seperti oven dan dinding pengering.

PENGOLAHAN KOMPOS

1.BAHAN BAKU

Bahan baku kompos merupakan campran beberapa jenis biomassa yang tersedia di kebun seperti daun, kulit kakao dan kulit kopi. Bahan baku dikelompokkan atas dasar jenis, ukuran dan nilai perbandingan kandungan senyawa karbon dan nitrogennya [C/N ratio].

2.PENCACAHAN dan PENCAMPURAN

Biomassa yang berukuran fisik besar [umumnya dari bahan dengan nilai C/N tinggi] harus dicacah terlebih bahulu secara mekanis sampai diperoleh ukuran serpihan antara 3 – 5 mm. Bahan dengan nilai C/N rendah [kotoran hewan] umumnya mempunyai ukuran fisik yang kecil dan langsung bisa dipakai sebagai bahan baku kompos. Serpihan dari dua atau tiga jenis biomassa dicampur dengan proporsi tertentu [sesuai nilai C/N yang dimiliknya] sehingga campuran bahan baku kompos mempunyai nilai C/N antara 30 – 35

3.PENGOMPOSAN

Proses pengomposan dapat dilakukan dengan metoda gundukan. Dimensi gundukan adalah lebar 1.25 – 1,50 m, panjang 8 – 10 m dan tinggi puncak gundukan antara 0,80 – 1 m. Bambu ditancapkan tegak lurus ke dalam gundukan pada setiap 1 m sepanjang alur gundukan untuk pemasukan udara. Bahan kompos disangga oleh beberapa lonjor bambu yang berfungsi selain untuk masukan udara, juga untuk lubang pengeluaran [drainase] air. Gundukan biomassa yang sudah terbentuk kemudian disiram dengan larutan kotoran sapi 5 % sampai kadar airnya mencapai 50 – 60 %. Gundukan ditutup dengan plastik atau terpal untuk pelindung saat air hujan dan penahan kehilangan panas. Proses pengomposan dapat juga dilakukan dalam bak permanen terbuat dari tembok semen. Pada bagian dasar bak disusun papan kayu berlubang tebal 30-50 mm untuk aerasi udara. Diameter lubang pada papan adalah 10 mm dengan jarak antar lubang 100 mm.

4.PENGEMASAN

Sebelum dikemas atau diaplikasikan ke tanaman, hasil kompos perlu dianginkan terlebih dahulu selama 1 – 2 minggu untuk penurunan suhu dan stabilisasi nilai pHnya. Jika ingin dijual, kompos perlu dijemur sampai kadar airnya turun menjadi 25 %. Hasil kompos dikemas dalam karung plastik yang telah dilengkapi dengan label nama produk dan kandungan haranya.

PENGOLAHAN PELET SAPI

1.BAHAN BAKU

Bahan baku pelet merupakan campuran daun hasil pangkasan tanaman penaung [lamtoro], gulma, bungkil kopra, limbah kulit kopi dan limbah kulit kakao. Sedangkan bahan baku yang diperoleh dari luar adalah molases dan bubuk ikan kering.

2.PENCAMPURAN dan FORMULASI

Berbagai bahan baku tersebut dicampur secara mekanik. Proporsi masing-masing bahan baku ditentukaan atas dasar jenis pakan yang akan dibuat mengikuti kaidah kandungan nutrisi yang lengkap dan seimbang yang meliputi mineral, protein, lemak, karbohidrat dan vitamin.

3.PEMBUATAN PELET

Pelet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan dari campuran bahan baku untuk mengurangi sifat keambaan pakan, meningkatkan kadar energi metabolis pakan, membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin. Pelet hasil proses bisa langsung diberikan sebagai pakan sapi.

4.PENGERINGAN

Jika akan disimpan lama, pelet dikeringkan dalam pengering tipe rak sampai kadar airnya menjadi 10 – 12 %. Bahan bakar yang digunakan adalah kayu dari hasil pangkasan pohon pelindung.

5.PENGEMASAN

Pelet dikemas dalam karung plastik dan disimpan dalam gudang yang bersih.