Monday , 24 July 2017
breakingfav ICCRI

Temu Lapang Kopi dan Temu Kemitraan Tahun 2016

Selasa, tanggal 10 Mei 2016 Pulitkoka dapat menggelar kembali suatu acara yang sudah menjadi semacam tradisi periodik, yaitu suatu pertemuan di areal kebun, dengan mengumpulkan seluruh stakeholder guna menyampaikan hasil penelitian mutakhir yang siap diadopsi oleh masyarakat pekebun, yang dikemas dalam bentuk Temu Lapang Kopi 2016.

Adapun Temu Lapang 2016 kali ini memilih tema “Inovasi Pengelolaan Kopi Berkelanjutan Dalam Upaya Mengantisipasi Perubahan Iklim global dan Degradasi Kesuburan Tanah, Menggunakan Bahan Tanaman Kopi Super”. Hal ini dipacu adanya suatu pemikiran bahwa dampak terjadinya perubahan iklim global serta adanya kecenderungan degradasi kesuburan tanah perlu diantisipasi dengan suatu paket teknologi sedemikian rupa sehingga dampaknya terhadap perkebunan kopi tidak nyata. Teknologi baru yang akan diperkenalkan adalah pengembangan kopi Arabika menggunakan bibit kopi SUPER

KOPI SUPER adalah bahan tanaman klonal kopi, merupakan hasil perpaduan antara klon unggul kopi Robusta dengan kopi Arabika yang dengan perlakuan tertentu kemudian dilakukan penggabungan dalam stadium dini, sehingga menghasilkan kompatibilitas yang sempurna. Keunggulan bibit KOPI SUPER dibanding bibit kopi asal perbanyakan yang lain di antaranya memiliki perakaran banyak dan gigas, tahan nematoda parasit (karena memiliki sifat regenerasi akar cepat), dan di lahan penanaman lebih tahan pada kondisi iklim kering serta mampu beradaptasi pada lahan marginal.

Di dalam Temu lapang kopi 2016 ini selain ditunjukkan keragaan hamparan kebun kopi Arabika asal bibit Kopi Super dengan batang atas berupa klon Andungsari 2K, disajikan pula keragaan hamparan kopi Arabika asal perbanyakan Somatic Embryogenesis serta integrasi budidaya kopi dengan ternak, sampai dengan pameran industri hulu dan hilir kopi berupa alsin (alat mesin) pengolah kopi untuk membangun kopi spesialti. Pada malam harinya setelah acara temu lapang kopi akan digelar acara temu kemitraan kopi, yang dilaksanakan di Pendopo Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember.

Temu Lapang Kopi 2016 diikuti oleh 300 peserta, terdiri unsur pimpinan pemerintah pusat dan daerah, Direktur Jenderal Perkebunan, Bupati Bondowoso, Bupati Kabupaten Sumba Tengah, Bupati Kabupaten Merangin (SumSel), serta direktur Sustainability & Procurement, NESTLE. Di samping itu tidak kalah membanggakan, temu lapang kopi 2016 juga dihadiri oleh beberapa Kepala Dinas Perkebunan Provinsi dan Kabupaten yang membidangi Perkebunan, serta petani/kelompok tani/penyuluh/asosiasi petani kopi/Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia. Beberapa lembaga yang terdaftar hadir adalah Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia (AKSI), Usaha Kecil Mikro (UKM), Lembaga Penelitian/ Perguruan Tinggi/ SMK, Perusahaan Perkebunan Negara/Swasta (PTP Nusantara XII), Lembaga sertifikasi kopi, Lembaga Swadaya Masyarakat/ Pemerhati kopi serta perbankan.

BEBERAPA MATERI PAKET TEKNOLOGI TEMU LAPANG

 

  1. Keragaan Tanaman klon Andungsari 2 K dengan bibit KOPI SUPER

Pertanaman kopi klon Andungsari 2 K di area ini merupakan populasi tanaman yang menggunakan bibit KOPI SUPER. Tampak pertanaman dengan keragaan yang tetap kokoh dan berbuah lebat meskipun pada tahun 2014 kondisi iklim tergolong kering dibanding tahun-tahun sebelumnya.

  1. Penggunaan BIOPORI, Pembuatan RORAK dan TERASERING sebagai salah satu teknik konservasi tanah di lahan perkebunan.

Tanaman kopi tergolong tanaman yang responsif terhadap cekaman air. Biopori merupakan lubang tanah dengan kedalaman satu meter yang diisi bahan organik yang berfungsi untuk menampung limpasan air hujan agar tersimpan di dalam tanah. Pembuatan biopori di samping tanaman merupakan upaya menjaga kondisi lengas tanah, sehingga tanaman kopi diharapkan masih dapat tumbuh optimal. Biopori dibuat sampai kedalaman 100 cm di setiap empat sisi tanaman kopi dengan jarak 30-50 cm dari tanaman kopi. Fungsinya serupa rorak namun pembuatannya menggunakan bor biopori sehingga menghemat biaya tenaga kerja.

Berbeda dengan biopori, rorak dibuat dengan ukuran panjang 100 cm, lebar 30 cm dan kedalaman 60 cm. Mengingat ukurannya yang lebih besar maka rorak sekaligus berfungsi untuk meletakkan pupuk kandang, menampung bahan organik sisa pangkasan tanaman pokok dan penaung serta gulma, sehingga diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah. Serta mengurangi resiko pencucian hara.

Selain pembuatan biopori dan rorak, terasering merupakan salah satu cara konservasi tanah dan air yang lazim digunakan di perkebunan kopi, khususnya pada tanah-tanah yang kemiringan lerengnya lebih dari 15%. Lahan miring yang dibuat berteras dapat mengurangi laju aliran permukaan dan erosi yang membawa serta unsur hara tanah dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

  1. Budidaya kopi integrasi dengan ternak

Dalam konsep integrasi ternak, pemanfaatan biomassa dilakukan melalui proses dekomposisi alamiah oleh ternak. Produk biomasa organik dari kebun dimanfaatkan sebagai pakan ternak sehingga proses daur ulang (recycling) hara dapat berlangsung lebih cepat serta dapat memberikan hasil tambahan berupa daging ternak. Kegiatan integrasi Kopi-Ternak diharapkan saling komplementer, yaitu dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman kopi. Keberadaan ternak selain sebagai sumber tambahan pendapatan juga menghasilkan pupuk organik yang dapat mengurangi biaya pupuk. Adanya penghasilan tambahan tersebut akan lebih menjamin keberlanjutan sistem usaha tani.

  1. Pameran alat-mesin pengolah kopi untuk industri hulu dan hilir kopi

Alat mesin kopi yang mutlak diperlukan pada industri hulu dan hilir kopi adalah 1). Mesin pengupas kulit buah kopi (PULPER). 2). Mesin pengupas biji kopi HS kering atau basah dan (HULLER) dan 3). Mesin sangrai kopi (ROASTER). Ketiga alat mesin tersebut merupakan persyaratan utama dan sangat berpengaruh nyata pada citarasa bubuk kopi yang diproduksi jika suatu daerah akan membangun pabrik kopi. Seperti halnya jika semula hanya merupakan Unit Pengolahan Hasil yang hanya memerlukan alsin pulper dan huller ataupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah dari suatu sentra produksi kopi di daerah yang ditingkakan menjadi unit produksi kopi bubuk.

  1. Festival Kopi Nusantara

Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi Robusta terbesar sesudah Brasil dan Vietnam, namun kopi Robusta Indonesia dikenal memiliki citarasa yang sangat baik karena tergolong dari kelompok Congolese, sehingga beberapa daerah memiliki keunggulan menghasilkan ”Fine Flavor Robusta”. Pada jenis kopi Arabika, meskipun hanya menghasilkan 30 % dari total produksi Nasional, namun beberapa kopi Arabika Indonesia sudah dikategorikan menjadi ”Kopi Spesialti”.

Merupakan suatu kesempatan yang sangat langka bagi peserta untuk dapat menikmati ragam citarasa kopi terbaik di Indonesia yang digelar dalam Festival Kopi Nusantara. Dalam festival tersebut akan digelar beberapa kopi terbaik yang dihasilkan dari beberapa daerah penghasil kopi spesialti maupun Fine Flavor Robusta.